Rabu, 25 Oktober 2017

Pengendalian Personil (User Pengguna IT)



Sistem pengendalian personil merupakan suatu perencanaan yang meliputi struktur organisasi dan semua metode dan alat-alat yang dikoordinasikan yang digunakan di dalam perusahaan dengan tujuan untuk menjaga keamanan harta milik perusahaan, memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi, mendorong efisiensi, dan membantu mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen yang telah ditetapkan.

Tujuan
Dari definisi di atas dapat kita lihat bahwa tujuan adanya pengendalian personil :
-          Menjaga kekayaan organisasi.
-          Memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi.
-          Mendorong efisiensi.
-          Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

Jenis
Dilihat dari tujuan tersebut maka sistem pengendalian personil dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1.    Pengendalian Intern Akuntansi (Preventive Controls)
Pengendalian Intern Akuntansi dibuat untuk mencegah terjadinya inefisiensi yang tujuannya adalah menjaga kekayaan perusahaan dan memeriksa keakuratan data akuntansi. Contoh : adanya pemisahan fungsi dan tanggung jawab antar unit organisasi.
2.    Pengendalian Intern Administratif (Feedback Controls).
Pengendalian Administratif dibuat untuk mendorong dilakukannya efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakkan manajemen.(dikerjakan setelah adanya pengendalian akuntansi) Contoh : pemeriksaan laporan untuk mencari penyimpangan yang ada, untuk kemudian diambil tindakan.

Peran Penting Personil
-          Membantu manajemen dalam mengendalikan dan memastikan keberhasilan kegiatan organisasi.
-      Menciptakan pengawasan melekat, menutupi nkelemahan dan keterbatasan personel, serta mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan dan kecurangan.
-          Membantu auditor dalam menentukan ukuran sampel dan pendekatan audit yang akan diterapkan.
-          Membantu auditor dalam memastikan efektifitas
-          audit, dengan keterbatasan waktu dan biaya audit

Keterbatasan Personil
-     Kekeliruan pengoperasian sistem (mistake in judgement) karena terbatasnya informasi dan waktu, karena tekanan lingkungan, atau karena terbatasnya kemampuan, meskipun SPI sudah dilengkapi dengan pedoman penyelesaian masalah.
-    Pelanggaran sistem (breakdowns), baik disengaja atau tidak, misalnya karena kesalahan interpretasi, kecerobohan, gangguan lingkungan, perubahan personalia, atau perubahan sistem dan prosedur.
-          Kolusi, atau kerjasama negatif sekelompok orang.
-          Pelanggaran dengan sengaja oleh manajemen (management override)
-          Dilema biaya-manfaat (costs versus benefits)

Penanggungjawab
1.    COSO (committee of sponsoring organizations), suatu organisasi yang anggotannya terdiri dari AAA (the American Accounting Association), AICPA, IIA (the Institute of Internal Auditors), IMA (the Institute of Management Accountants), dan FEI (the Financial Executive Institute), menyatakan bahwa setiap personel dalam suatu organisasi memiliki tanggungjawab dan merupakan bagian dari struktur pengendalian interen organisasi.
2.    Pihak eksteren, seperti auditor independent serta lembaga otoritas yang lain, dimungkinkan untuk memberikan kontribusi dalam perancangan struktur pengendalian interen, tetapi mereka tidak bertanggungjawab terhadap efektifitas personil dan bukan bagian dari personil
3.    Kelompok berperan besar, Manajemen, Dewan komisaris dan komite audit, Auditor interen, Personel lain dalam organisasi, Auditor independen, pihak luar lain, seperti lembaga-lembaga otoritas yang memiliki kewenangan untuk mengatur jalannya organisasi

Selasa, 10 Oktober 2017

Tujuan Audit Sistem Informasi

Tujuan audit sistem informasi menurut Ron Weber (1999:11-13) secara garis besar terbagi menjadi empat tahap, yaitu:

a. Pengamanan Aset

Aset informasi suatu perusahaan seperti perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), sumber daya manusia, file data harus dijaga oleh suatu sistem pengendalian intern yang baik agar tidak terjadi penyalahgunaan aset perusahaan. Dengan demikian sistem pengamanan aset merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus dipenuhi oleh perusahaan.

b. Menjaga integritas data

Integritas data (data integrity) adalah salah satu konsep dasar sistem inforamasi. Data memeiliki atribut-atribut tertentu seperti: kelengkapan, keberanaran, dan keakuratan. Jika integritas data tidak terpalihara, maka suatu perusahaan tidak akan lagi memilki hasil atau laporan yang beanr bahkan perusahaan dapat menderita kerugian

c. Efektifitas Sistem

Efektifitas sistem informasi perusahaan melikiki peranan pentigndalam proses pemgambilan keputusan. Suatu sistem informasi dapat dikatakan efektif bila sistem informasi tersebut telah sesuai dengan kebutuhan user

d. Efisiensi Sistem

Efisiensi menjadi hal yang sangat penting ketika suatu komputer tidak lagi memilki kapasitas yang memadai atau harus mengevaluasi apakah efisiensi sistem masih memadai atau harus menambah sumber daya, karena suatu sistem dapat dikatakan efisien jika sistem informasi dapat memenuhi kebutuhan user dengan sumber daya informasi yang minimal.

e. Ekonomis

Ekonomis mencerminkan kalkulasi untuk rugi ekonomi (cost/benefit) yang lebih bersifat kuantifikasi nilai moneter (uang). Efisiensi berarti sumber daya minimum untuk mencapai hasil maksimal. Sedangkan ekonomis lebih bersifat pertimbangan ekonomi.

Daftar Pustaka :

Ikatan Akuntan Publik. 2001. Standar Profesional Akuntan Publik. Salemba Empat: Jakarta.

Ron Weber .1999. Information System Control and Audit. Prentice-Hall, Inc: New Jersey.

Teknologi untuk Audit Sistem Informasi

Jadi  secara  lebih  jelas  audit  sistem  informasi  dapat  digolongkan dalam tipe atau jenis-jenis audit sebagai berikut:

Audit laporan keuangan (Financial Statement Audit)
Audit operasional (Operational Audit)
2.1   Audit terhadap aplikasi komputer

         a. Postimplementation audit (audit setelah implementasi)

         b. Concurrent audit (audit secara bersama-sama)

2.2.   General audit (audit umum)

Sebagian besar tipe penyalahgunaan komputer adalah:

Hacking
Virus
Illegal Physical Access
Abouse of Privilages
Jenis Penyalah Gunaan Komputer

Destruction of asset (perusahaan aset)
Theft of asset (pencurian aset)
Modification of asset (modifikasi aset)
Privacy violaction (pelanggaran privasi)
Discruption of Operations (pengacauan operasi)
Unauthorized use of asset (penyalahgunaan otorisasi aset)
Physical harm to personnel (kejahatan fisik terhadap personal)

Terdapat dua komponen penting dalam audit yaitu:

Pertama, audit interim yang bertujuan menetapkan seberapa besar system pengendalian internal dapat diandalkan, dan biasanya membutuhkan uji kelayakan. Uji kelayakan tersebut adalah untuk mengkonfirmasi keberadaan, menilai efektivitas, dan memeriksa kesinambungan operasi kelayakan telah dinyatakan oleh internal control.

Kedua, audit laporan keuangan yang melibatkan uji substantive. Pengujian bersifat substantive adalah verifikasi langsung terhadap angka-angka laporan keuangan, menempatkan keandalan pengendalian internal sebagai hasil jaminan audit interim.

1.1.2      Ada Tiga Pendekatan Auditing

Auditing Around Computer (Audit Sekitar Komputer) yaitu dimana penggunaan komputer pada tahap proses diabaikan.
Auditing Throught Computer (Auditing Melalui Komputer) yaitu dimana pada tahap proses penggunaan komputer telah aktif.
Auditing With Computer (Auditing Dengan Komputer) yaitu dimana input, proses dan output telah menggunakan komputer.

1.2          Teknologi Auditing Sistem Informasi

Teknologi auditing sistem informasi telah berkembang seiring perkembangan sistem computer. Beberapa teknologi terkait dengan biaya yang cukup signifikan untuk mengimplementasikannya, sementara teknologi-teknologi lainnya dapat diimplementasikan dengan biaya relative rendah.

Test Data
Data pengujian adalah input yang disiapkan oleh auditor yang berisi baik input yang berisi data valid dan maupun tidak valid. Data pengujian dapat digunakan untuk memverifikasi validasi input transaksi rutin, pemrosesan logika, dan penghitungan rutin program-program komputer dan untuk memverifikasi penggabungan perubahan-perubahan program. Dengan melakukan data pengujian, program masa ekonomis produksi reguler dapat digunakan, dan hal ini penting untuk memastikan bahwa data pengujian tidak memengaruhi file-file yang disimpan oleh sistem.

Data pengujian dapat dilakukan dengan membuat bentuk input untuk uji transaksi fiktif atau dengan cara lainnya, dengan mengkaji ulang data input aktual dan memilih beberapa transaksi riil untuk pemrosesan sebagai data pengujian. Teknik lainnya yang jarang digunakan adalah menciptakan data pngujian dengan menggunakan generator data pengujian yang secara khusus didesain dengan program komputer untuk menciptakan data komprehensif berdasarkan data input.

Integrated Test Facility
ITF menggunakan baik data pengujian maupun penciptaan record fiktif (vendor, karyawan) pada file master sebuah sistem computer. ITF pada umumnya digunakan unuk mengaudit sistem aplikasi komputer besar yang menggunakan teknologi pemrosesan real time.

Parallel Simulation
Pemrosesan data riil melalui program audit. Output disimulasikan dan dibandingkan dengan output regular demi tujuan pengawasan. Simulasi parallel, pemrosesan redundan terhadap seluruh data input dengan melakukan uji program terpisah, mengizinkan validasi komprehensif dan sangat tepat dilaksanakan pada transaksi penting yang memerlukan audit 100%. Program audit yang digunakan dalam simulasi paralel biasanya merupakan jenis program audit umum yang memproses data dan menghasilkan output yang identik dengan program yang sedang diaudit.

Audit software
Program computer yang memungkinkan computer digunakan sebagai alat auditing. Perangkat lunak yang konvensional seperti program penggunaan sistem, program pemunculan kembali informasi, atau bahasa program tingkat tinggi (COBOL) dapat digunakan untuk kegiatan audit ini.

Generalized Audit Software
GAS adalah perangkat lunak audit yang secara khusus didesain untuk memungkinkan auditor melakukan fungsi pemrosesan data audit yang terkait. GAS didesain untuk memungkinkan auditor dengan keahlian komputer yang tidak terlalu canggih untuk menjalankan audit yang terkait dengan fungsi-fungsi pemrosesan data. Paket-paket tersebut dapat menjalankan beberapa tugas tertentu seperti menyeleksi data sampel dari file-file, memeriksa perhitungan, dan mencari file-file untuk item-item yang tidak biasa.

PC Software
Perangkat lunak yang memungkinkan auditor menggunakan sebuah PC untuk melakukan tugas tugas audit. Paket PC software general purpose seperti perangkat lunak pengolah kata dan spreadsheet telah memiliki banyak aplikasi audit.

ACL, yang dipublikasikan oleh ACL software adalah salah satu contoh perangkat lunak audit. Perangkat lunak ini memungkinkan auditor untuk menghubungkan sebuah PC dengan mainframe atau PC klien dan kemudian mengekstrak dan menganalisis data.

Embedded Audit Routine
Rutinitas auditing khusus dimasukkan dalam program computer regular sehingga data transaksi dapat dijadikan subjek analisis audit. Kriteria audit untuk menyeleksi dan mencatat transaksi dengan modul-modul embedded (dilekatkan) harus disediakan oleh auditor. Dalam pendekatan yang disebut system control audit review file (SCARF), pengujian-pengujian terhadap edit-program yang ditentukan auditor untuk membatasi atau menentukan kelayakan, dimasukkan dalam program saat pertama kali program dikembangkan.

                    1.2.1      Embedded Audit Routine

Embedded audit routine adalah sebuah teknologi audit yang meliputi modifikasi program-program komputer demi tujuan audit. Hal ini dicapai dengan membangun rutin auditing khusus kedalam program produksi reguler sehinggga data transaksi atau beberapa subbagian darinya dapat dijadikan subjek bagi analisis audit. Salah satu teknik tersebut diberinama embedded audit data collection. Teknik ini menggunakan satu atau lebih modul-modul yang diprogram khusus yang dilekatkan (embedded) sebagai in-line code dalam kode program reguler untuk menyeleksi dan mencatat data untuk analisis dan evaluasi berikutnya. Penggunaan in-line code berarti bahwa program aplikasi menjalankan fungsi pengumpulan data audit bersamaan dengan program tersebut memproses data untuk tujuan produksi normal.

Kriteria audit untuk menyeleksi dan mencatat transaksi dengan modul-modul embedded (dilekatkan) harus disediakan oleh auditor. Hal ini dilakukan dalam banyak cara. Dalam pendekatan yang disebut system control audit review file (SCARF), pengujian-pengujian terhadap edit-program yang ditentukan auditor untuk membatasi atau menentukan kelayakan, dimasukan dalam program saat pertama kali program dikembangkan. Tujuan pendekatan ini adalah untuk menghasilkan sebuah sampel statistik transaksi untuk audit selanjutnya. Pendekatan ini disebut Sample Audit Review File (SARF).

                   1.2.2      Extended Record

Extended record adalah modifikasi program komputer untuk menyediakan sebuah rute audit secara komperhensif untuk transaksi-transaksi tertentu dengan cara mengumpulkannya dalam satu data tambahan extended record yang berkaitan dengan pemrosesan, yang biasanya tidak dikumpulkan.

Dengan teknik extended record, transaksi-transaksi khusus akan dipatok pada suatu tempat, dan langkah-langkah proses yang mengganggu yang biasanya tidak disimpan dan ditambahkan pada extended record, yang memungkinkan rute audit direkontruksi untuk transaksi-transaksi tersebut. Extended record berisi data dari seluruh program aplikasi yang terpisah, namun mampu memproses sebuah transaksi dan menyediakan sebuah rute audit yang lengkap. Transaksi-transaksi tersebut dapat diidentifikasi dengan kode-kode khusus, disleksi secara acak, atau dipilih sebagai eksepsi atas uji edit.

                    1.2.3      Snapshot

Snapshot adalah upaya untuk menyediakan gambaran komprehensif terhadap proses kerja sebuah program pada suatu titk waktu tertentu. Snapshot merupakan teknik program-debugging yang umum dikenal. Snapshot merupakan penambahan kode program yang menyebapkan program mampu mencetak isi area memori tertentu pada saat dan selama proses, ketika kode snapshot tersebut dijalankan. Snapshot dan extended record merupakan teknologi yang sangat mirip, dengan snapshot mampu menghasilkan sebuah rute audit dan extended record mampu menggabungkan data snapshot dalam extended record, dan bukan dalam bentuk hard copy.

                    1.2.4      Tracing

Tracing adalah teknik audit lainnya yang berasal dari program bantu debugging. Penelusuran (tracing) sebuah eksekusi program menyediakan rute rinci audit atas intruksi-intruksi yang dijalankan selama pengoprasian program. Tracing biasanya dijalankan dengan menggunakan sebuah pilihan dalam bahasa kode sumber program (seperti COBOL). Rute audit yang disediakan oleh tracing tergantung pada paket tracing tertentu. Bahasa-bahasa program tingkat tinggi ditelusuri pada tingkat sumber laporan, dan bahasa-bahasa program tingkat yang lebih rendah ditelusuri pada tingkat yang lebih rinci. Demi kepentingan audit, tracing dapat digunakan untuk memverifikasi bahwa pengendalian internal dalam sebuah program aplikasi dapat dieksekusi ketika program tersebut memproses data pengujian. Tracing juga dapat mengindikasikan bagian-bagian dalam kode program yang tidak dieksekusi, yaitu situasi yang didalamnya beberapa kejadian telah menghasilkan temuan ketidak tepatan atau modifikasi yang tidak diotorisasi pada sebuah program.

Seluruh teknik embedded audit routin membutuhkan keahlian teknik yang tinggi ketika teknik-teknik tersebut untuk pertama kalinya ditetapkan, dan diperlukan pula pengetahuan yang memadai untuk menggunakan teknik-teknik tersebut dengan efektif. Teknik-teknik tersebut menjadi jauh lebih mudah diimplementasikan ketika sebuah program dan file-file untuk sebuah aplikasi desain, dan bukan setelah sistem beroprasi. Tingkat idenpendensi yang tetap dapat dipertahankan/dijaga oleh auditor sementara pengembangan sistem-sistem tersebut sangat tergantung pada tingkat keahlian teknis yang mereka miliki. Bahkan ketika auditor memiliki tingkat keahlian teknis yang tinggi, pengembangan masih tetap membutuhkan sebuah kerja sama yang baik antara auditor dan personel sistem.

                    1.2.5      Dokumen Tinjauan Sistem

Dokumen tinjauan sistem, seperti deskripsi naratif, flowchart dan daftar program, mungkin merupakan teknik auditing sistem informasi yang paling tua dan masih tetap digunakan secara luas. Pendekatan ini akan cocok khususnya pada audit tahap awal sebagai persiapan untuk seleksi dan penggunaan teknologi audit langsung lainnya.

Jenis kajian ulang lainnya pun memungkinkan. Seorang auditor dapat meminta personal omputer untuk melakukan “dump” terhadap sebuah file komputer, yaitu menyediakan bagi auditor sebuah daftar lengkap isi file. Atau, auditor dapat meminta dump daftar bahasa bahasa sumber program. Daftar ini dapat di kaji ulang oleh auditor. Program dapat dicek langsung ( desk checked )oleh auditor.dalam pengecekan langsung , auditor secara manual memproses data uji atau riil melalui logika program. Flowchat program dapat dikaji ulang dalam cara yang sama. Kaji ulang sebuah program yang lebih canggih dapat dilakukan dengan meminta sebuah dump atas kode objek, yaitu versi bahasa –mesin sebuh program. Jenis lain proses dokumentasi yang dapat di uji adalah pengoprasian dokumentasi yang dilakukan oleh banyak sitem komputer sebagai bagian rutin operasi. Rutinitas tersebut meliputi pengumpulan dan meringkas statistik-statistik yang berkaitan dengan dengan penggunaan sumberdaya program. Dan tentu saja, statistik itu sangat penting bagi auditor karena ia menunjukan bagaimana seseorang pengguna sistem, dan menunjukan pula kapan dan dan sumber daya serta program apa saja yang terlibat di dalamnya.

1.2.6      Flowchart Pengendalian

Dalam banyak kasus, dokumentasi khusus untuk kepentingan auditing dikaji ulang dan dikembangkan untuk menunjukan sifat dasar pengendalian aplikasi dalam sebuah sistem. Dokumen ini disebut Flowchart pengendalian. Flowchart analitik, Flowchart sistem, dan teknik grafis lainnya digunakan untuk menggambarkan berbagai pengendalian dalam sebuah sistem. Keunggulan utama Flowchart adalah mudah dipahami oeh auditor, pengguna, dan personal komputer sehingga dapat memfasilitasi komunikasi antar pihak yang berbeda.

                   1.2.7      Mapping

Bukti audit yang lebih bersifat langsung yang berkaitn dengan program dapat diperoleh dengan memonitor pengoperasian sebuah program dengan paket pengukuran perangkat lunak khusus. Perangat lunak khusus ini digunakan untuk memonitor eksekusi sebuah program yang dilakukan dengan menghitung berapa kali setiap pernyataan dalam tiap program dieksekusi dan dengan memberikan ringkasan statistik yang berkaitan dengan penggunaan sumber daya. Walaupun paket pengukuran perangkat lunak dapat memastikan bahwa langkah-langkah program tertentu telah dijalankan, tetapi ia tidak dapat memastikan bahwa eksekusi yang dijalankan yang dijalankan telah sesuai urutan yang tepat. Pemetaan dapat digunakan secara efektif bersama-sama dengan teknik data pengujian. Eksekusi sebuah program dengan data pengujian sebagai input dapat dijadikan sebuah pemetaan. Evaluasi output pemeantauan perangkat lunak dapat mengindikasikan seberapa luas input menguji pernyataan-pernyataan program individual.



1.3          Berbagai Jenis Audit Sistem Informasi

                    1.3.1 Pendekatan Umum Pada Audit System Informasi

Hampir semua pendekatan untuk sebuah audit system informasi mengikuti beberapa variasi dari sebuah struktur tiga tahap. Tahap pertama terdiri atas kajian ulang awal dan evaluasi wilayah yang akan diaudit dan persiapan rencana audit, yang bertujuan menetukan serangkaian tindakan yang akan dilakukan audit dan meliputi keputusan-keputusan yang berkaitann dengan wilayah wilayah tertentu yang akan diinvestigasi, penggunaan tenaga kerja audit, teknologi audit yang akan digunakan, dan pengembangan anggaran waktu dan atau biaya audit itu sendiri.

Tahap kedua dalam audit sitem informasi adalah adalah kaji ulang dan evaluasi terperinci. Dalam tahap audit ini, upaya diarahkan pada penemuan fakta dalam bidang atau wilayah yang dipilih untuk di audit.

Tahap ketiga dalam audit adalah pengujian. Tahap pengujian sebuah audit menghasilkan bukti kepatuhan terhadap prosedur yang telah ditetapkan. Uji kepatuhan dilakukan untuk menyediakan jaminan kepastian bahwa ada pengendalian internal dan ia lakukan sesuai yang telah dituliskan dalam dokumentasi sistem.

                    1.3.2 Audit Aplikasi Sistem Informasi

Pengendalian aplikasi dibagi menjadi tiga wilayah umum, yaitu input, pemrosesan, output. Audit aplikasi biasanya meliputi pengkajian ulang pengendalian yang ada disetiap wilayah tersebut. Teknologi khusus yang digunakan akan tergantung pada kecerdasan dan sumber daya yang dimiliki auditor. Data pengujian, ITF atau simulasi pararel dapat digunakan untuk pengendalian uji pemrosesan.

                    1.3.3 Audit Pengembangan Sistem Aplikasi

Audit pengembangan sistem diarahkan pada aktivitas analisis sistem dan programmer yang mengembangkan dan memodifikasi program-program aplikasi, file, prosedur-prosedur yang terkait. Pengendalian proses pengembangan sistem mempengaruhi keandalan program program aplikasi yang dikembangkan. Tiga wilayah umum yang menjadi perhatian audit dalam proses pengembangan sistem adalah standar pengembangan system, manajemen proyek, dan pengawasan perubahan program. Teknik audit yang sering digunakan untuk masing masing area tersebut adalah kaji ulang dan pengujian dokumentasi-dokumentasi yang terkait. Standar pengembangan system adalah dokumentasi yang berkaitan dengan desain, pengembangan, dan implementasi system aplikasi.

Pengembangan manajemen proyek mengukur dan mengendalikan kemajuan selama pengembangan system aplikasi. Manajemen proyek terdiri atas perencanaan proyek dan pengawasan proyek. Rencana proyek adalah pernyataan formal rencana kerja rinci dari proyek tersebut.

                     1.3.4 Audit Pusat Layanan Komputer

Pengendalian umum yang mengatur operasi pusat layanan computer melengkapi pengendalian aplikasi yang dikembangkan dalam sistem aplikasi tertentu. Pengendalian umum yang mengatur operasi computer juga membantu memastikan ketersediaan yang berkesinambungan atas sumber daya pusat pengendalian lingkungan..

Audit dapat pula dilakukan dalam beberapa bidang. Salah satunya adalah yang berkaitan dengan pengendalian lingkungan. System mainframe yang yang berkaitan dengan pusat layanan komputer besar biasanya memiliki persyaratan suhu dan kelembapan khusus. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan karenanya pengendalian juga harus diperhatikan untuk mempertahankan kestabilan sumber daya dan juga menyediakan sebuah alternative sumber daya jika terjadi kegagalan.

Pengendalian manajemen atas operasi pusat layanan computer juga bidang yang memerlukan perhatian. Area ini meliputi teknik teknik yang digunakan untuk menganggarkan factor factor beban perlengkapan, statistic penggunaan proyek, anggaran dan kebutuhan perencanaan staf dan rencana akuisisi perlengkapan

DAFTAR PUSTAKA

http://www.kajianpustaka.com/2014/02/audit-sistem-informasi.html
https://bsiuntag-sby.com/berita-154-audit-sistem-informasi.html
Handayaningsih, Sri. Audit Sistem Informasi pada Digilib Universitas XYZ Menggunakan Kerangka Kerja COBIT 4.0. Jurnal Sarjana Teknik Informatika. Volume 1 Nomor 1, Juni 2013. Pp. 276-286. e-ISSN: 2338-5197
Weber, Ron. (1999). Information Systems Control and Audit. Prentice-Hall, Inc., New Jersey.
http://id.netlog.com/miemaya/blog/blogid=15965 Advertisements


Pengertian Mengenai Audit Sistem Informasi

Audit sistem informasi adalah proses pengumpulan dan penilaian bukti – bukti untuk menentukan apakah sistem komputer dapat mengamankan aset, memelihara integritas data, dapat mendorong pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan menggunakan sumberdaya secara efisien”. Ron Weber (1999,10) mengemukakan bahwa audit sistem informasi adalah :
” Information systems auditing is the process of collecting and evaluating evidence to determine whether a computer system safeguards assets, maintains data integrity, allows organizational goals to be achieved effectively, and uses resources efficiently”.

Daftar Pustaka :
http://www.kajianpustaka.com/2014/02/audit-sistem-informasi.html?m=1

Kamis, 27 April 2017

Penggunaan IP Versi 6

Alamat IP versi 6
Alamat IP versi 6 (sering disebut sebagai alamat IPv6) adalah sebuah jenis pengalamatan jaringan yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP/IP yang menggunakan protokol Internet versi 6. Panjang totalnya adalah 128-bit, dan secara teoritis dapat mengalamati hingga 2128=3,4 x 1038 host komputer di seluruh dunia. Contoh alamat IPv6 adalah 21da:00d3:0000:2f3b:02aa:00ff:fe28:9c5a.
IPv6 mendukung beberapa jenis format prefix, yakni sebagai berikut:
  1. Alamat Unicast, yang menyediakan komunikasi secara point-to-point, secara langsung antara dua host dalam sebuah jaringan.
  1. Alamat Multicast, yang menyediakan metode untuk mengirimkan sebuah paket data ke banyak host yang berada dalam group yang sama. Alamat ini digunakan dalam komunikasi one-to-many.
  1. Alamat Anycast, yang menyediakan metode penyampaian paket data kepada anggota terdekat dari sebuah group. Alamat ini digunakan dalam komunikasi one-to-one-of-many. Alamat ini juga digunakan hanya sebagai alamat tujuan (destination address) dan diberikan hanya kepada router, bukan kepada host-host biasa.
Jika dilihat dari cakupan alamatnya, alamat unicast dan anycast terbagi menjadi alamat-alamat berikut:
- Link-Local, merupakan sebuah jenis alamat yang mengizinkan sebuah komputer agar dapat berkomunikasi dengan komputer lainnya dalam satu subnet.
- Site-Local, merupakan sebuah jenis alamat yang mengizinkan sebuah komputer agar dapat berkomunikasi dengan komputer lainnya dalam sebuah intranet.
- Global Address, merupakan sebuah jenis alamat yang mengizinkan sebuah komputer agar dapat berkomunikasi dengan komputer lainnya dalam Internet berbasis IPv6.
Sementara itu, cakupan alamat multicast dimasukkan ke dalam struktur alamat . 

Unicast Address
Alamat IPv6 unicast dapat diimplementasikan dalam berbagai jenis alamat, yakni: 

Alamat unicast global
IPv6 mirip dengan alamat publik dalam alamat IPv4. Dikenal juga sebagai Aggregatable Global Unicast Address. Seperti halnya alamat publik IPv4 yang dapat secara global dirujuk oleh host-host di Internet dengan menggunakan proses routing, alamat ini juga mengimplementasikan hal serupa. Struktur alamat IPv6 unicast global terbagi menjadi topologi tiga level (Public, Site, dan Node). 

Unicast site-local addresses
Alamat unicast site-local IPv6 mirip dengan alamat privat dalam IPv4. Ruang lingkup dari sebuah alamat terdapat pada Internetwork dalam sebuah site milik sebuah organisasi. Penggunaan alamat unicast global dan unicast site-local dalam sebuah jaringan adalah mungkin dilakukan. Prefiks yang digunakan oleh alamat ini adalah FEC0::/48. 

Unicast link-local address
Alamat unicast link-local adalah alamat yang digunakan oleh host-host dalam subnet yang sama. Alamat ini mirip dengan konfigurasi APIPA (Automatic Private Internet Protocol Addressing) dalam sistem operasi Microsoft Windows XP ke atas. host-host yang berada di dalam subnet yang sama akan menggunakan alamat-alamat ini secara otomatis agar dapat berkomunikasi. Alamat ini juga memiliki fungsi resolusi alamat, yang disebut dengan Neighbor Discovery. Prefiks alamat yang digunakan oleh jenis alamat ini adalah fe80::/64. 

Unicast unspecified address
Alamat unicast yang belum ditentukan adalah alamat yang belum ditentukan oleh seorang administrator atau tidak menemukan sebuah DHCP Server untuk meminta alamat. Alamat ini sama dengan alamat IPv4 yang belum ditentukan, yakni 0.0.0.0. Nilai alamat ini dalam IPv6 adalah 0:0:0:0:0:0:0:0 atau dapat disingkat menjadi dua titik dua (::). 

Unicast Loopback Address
Alamat unicast loopback adalah sebuah alamat yang digunakan untuk mekanisme interprocess communication (IPC) dalam sebuah host. Dalam IPv4, alamat yang ditetapkan adalah 127.0.0.1, sementara dalam IPv6 adalah 0:0:0:0:0:0:0:1, atau ::1. 

Unicast 6to4 Address
Alamat unicast 6to4 adalah alamat yang digunakan oleh dua host IPv4 dan IPv6 dalam Internet IPv4 agar dapat saling berkomunikasi. Alamat ini sering digunakan sebagai pengganti alamat publik IPv4. Alamat ini aslinya menggunakan prefiks alamat 2002::/16, dengan tambahan 32 bit dari alamat publik IPv4 untuk membuat sebuah prefiks dengan panjang 48-bit, dengan format 2002:WWXX:YYZZ::/48, di mana WWXX dan YYZZ adalah representasi dalam notasi colon-decimal format dari notasi dotted-decimal format w.x.y.z dari alamat publik IPv4. Sebagai contoh alamat IPv4 157.60.91.123 diterjemahkan menjadi alamat IPv6 2002:9d3c:5b7b::/48.
Meskipun demikian, alamat ini sering ditulis dalam format IPv6 Unicast global address, yakni 2002:WWXX:YYZZ:SLA ID:Interface ID. 

Unicast ISATAP Address
Alamat Unicast ISATAP adalah sebuah alamat yang digunakan oleh dua host IPv4 dan IPv6 dalam sebuah Intranet IPv4 agar dapat saling berkomunikasi. Alamat ini menggabungkan prefiks alamat unicast link-local, alamat unicast site-local atau alamat unicast global (yang dapat berupa prefiks alamat 6to4) yang berukuran 64-bit dengan 32-bit ISATAP Identifier (0000:5efe), lalu diikuti dengan 32-bit alamat IPv4 yang dimiliki oleh interface atau sebuah host. Prefiks yang digunakan dalam alamat ini dinamakan dengan subnet prefix. Meski alamat 6to4 hanya dapat menangani alamat IPv4 publik saja, alamat ISATAP dapat menangani alamat pribadi IPv4 dan alamat publik IPv4. 

Format Prefix
Dalam IPv4, sebuah alamat dalam notasi dotted-decimal format dapat direpresentasikan dengan menggunakan angka prefiks yang merujuk kepada subnet mask. IPv6 juga memiliki angka prefiks, tapi tidak digunakan untuk merujuk kepada subnet mask, karena memang IPv6 tidak mendukung subnet mask.
Prefiks adalah sebuah bagian dari alamat IP, di mana bit-bit memiliki nilai-nilai yang tetap atau bit-bit tersebut merupakan bagian dari sebuah rute atau subnet identifier. Prefiks dalam IPv6 direpesentasikan dengan cara yang sama seperti halnya prefiks alamat IPv4, yaitu [alamat]/[angka panjang prefiks]. Panjang prefiks menentukan jumlah bit terbesar paling kiri yang membuat prefiks subnet. Sebagai contoh, prefiks sebuah alamat IPv6 dapat direpresentasikan sebagai berikut:
3ffe:2900:d005:f28b::/64
Pada contoh di atas, 64 bit pertama dari alamat tersebut dianggap sebagai prefiks alamat, sementara 64 bit sisanya dianggap sebagai interface ID. 

Infrastruktur routing dan addressing yang efisien dan hirarkis.
Arsitektur pengalamatan IPv6 yang hirarkis membuat infrastruktur routing menjadi efisien dan hirarkis juga. Adanya konsep skup juga memudahkan dalam manajemen pengalamatan untuk berbagai mode teknologi transmisi. 

Kemampuan Plug-and-play melalui stateless maupun statefull address auto-configuration.
Pada teknologi IPv6, sebuah node yang memerlukan alamat bisa secara otomatis mendapatkannya (alamat global) dari router IPv6 ataupun cukup dengan mengkonfigurasi dirinya sendiri dengan alamat IPv6 tertentu (alamat link local) tanpa perlu adanya DHCP server seperti pada IPv4. Hal ini juga akan memudahkan konfigurasi. Hal ini penting bagi kesuksesan teknologi pengalamatan masa depan karena di Internet masa depan nanti akan semakin banyak node yang akan terkoneksi. Perangkat rumah tangga dan bahkan manusia pun bisa saja akan memiliki alamat IP. Tentu saja ini mensyaratkan kesederhanaan dalam konfigurasinya. Mekanisme konfigurasi otomatis pada IPv6 ini akan memudahkan tiap host untuk mendapatkan alamat, menemukan tetangga dan router default bahkan menggunakan lebih dari satu router default untuk redundansi dengan efisien. 

Keamanan yang sudah menjadi standar built-in.
Jika pada IPv4 fitur IPsec hanya bersifat opsional maka pada IPv6 fitur IPsec ini menjadi spesifikasi standar. Paket IPv6 sudah bisa secara langsung diamankan pada layer network. 





Daftar Pustaka :
https://googleweblight.com/?lite_url=https://id.m.wikipedia.org/wiki/Alamat_IP_versi_6&ei=eh9bUtde&lc=id-ID&s=1&m=503&host=www.google.co.id&ts=1493275134&sig=AJsQQ1DNIT3n56-IYOj8UVtGCqkNDAi6sA&lite_refresh=1493275953124
https://belajaripv6.wordpress.com/2007/01/09/perbandingan-ipv4-dan-ipv6/
https://belajaripv6.wordpress.com/2007/01/09/dasar-ipv6-pengalamatan-2/

Ulasan Mengenai Alamat IP Versi 6

Alamat IP versi 6

Alamat IP versi 6 (sering disebut sebagai alamat IPv6) adalah sebuah jenis pengalamatan jaringan yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP/IP yang menggunakan protokol Internet versi 6. Panjang totalnya adalah 128-bit, dan secara teoritis dapat mengalamati hingga 2128=3,4 x 1038 host komputer di seluruh dunia. Contoh alamat IPv6 adalah 21da:00d3:0000:2f3b:02aa:00ff:fe28:9c5a.

IPv6 mendukung beberapa jenis format prefix, yakni sebagai berikut:

1. Alamat Unicast, yang menyediakan komunikasi secara point-to-point, secara langsung antara dua host dalam sebuah jaringan.

2. Alamat Multicast, yang menyediakan metode untuk mengirimkan sebuah paket data ke banyak host yang berada dalam group yang sama. Alamat ini digunakan dalam komunikasi one-to-many.

3. Alamat Anycast, yang menyediakan metode penyampaian paket data kepada anggota terdekat dari sebuah group. Alamat ini digunakan dalam komunikasi one-to-one-of-many. Alamat ini juga digunakan hanya sebagai alamat tujuan (destination address) dan diberikan hanya kepada router, bukan kepada host-host biasa.

Jika dilihat dari cakupan alamatnya, alamat unicast dan anycast terbagi menjadi alamat-alamat berikut:

- Link-Local, merupakan sebuah jenis alamat yang mengizinkan sebuah komputer agar dapat berkomunikasi dengan komputer lainnya dalam satu subnet.

- Site-Local, merupakan sebuah jenis alamat yang mengizinkan sebuah komputer agar dapat berkomunikasi dengan komputer lainnya dalam sebuah intranet.

- Global Address, merupakan sebuah jenis alamat yang mengizinkan sebuah komputer agar dapat berkomunikasi dengan komputer lainnya dalam Internet berbasis IPv6.
Sementara itu, cakupan alamat multicast dimasukkan ke dalam struktur alamat .

Unicast Address
Alamat IPv6 unicast dapat diimplementasikan dalam berbagai jenis alamat, yakni:

Alamat unicast global
IPv6 mirip dengan alamat publik dalam alamat IPv4. Dikenal juga sebagai Aggregatable Global Unicast Address. Seperti halnya alamat publik IPv4 yang dapat secara global dirujuk oleh host-host di Internet dengan menggunakan proses routing, alamat ini juga mengimplementasikan hal serupa. Struktur alamat IPv6 unicast global terbagi menjadi topologi tiga level (Public, Site, dan Node).

Unicast site-local addresses
Alamat unicast site-local IPv6 mirip dengan alamat privat dalam IPv4. Ruang lingkup dari sebuah alamat terdapat pada Internetwork dalam sebuah site milik sebuah organisasi. Penggunaan alamat unicast global dan unicast site-local dalam sebuah jaringan adalah mungkin dilakukan. Prefiks yang digunakan oleh alamat ini adalah FEC0::/48.

Unicast link-local address
Alamat unicast link-local adalah alamat yang digunakan oleh host-host dalam subnet yang sama. Alamat ini mirip dengan konfigurasi APIPA (Automatic Private Internet Protocol Addressing) dalam sistem operasi Microsoft Windows XP ke atas. host-host yang berada di dalam subnet yang sama akan menggunakan alamat-alamat ini secara otomatis agar dapat berkomunikasi. Alamat ini juga memiliki fungsi resolusi alamat, yang disebut dengan Neighbor Discovery. Prefiks alamat yang digunakan oleh jenis alamat ini adalah fe80::/64.

Unicast unspecified address
Alamat unicast yang belum ditentukan adalah alamat yang belum ditentukan oleh seorang administrator atau tidak menemukan sebuah DHCP Server untuk meminta alamat. Alamat ini sama dengan alamat IPv4 yang belum ditentukan, yakni 0.0.0.0. Nilai alamat ini dalam IPv6 adalah 0:0:0:0:0:0:0:0 atau dapat disingkat menjadi dua titik dua (::).

Unicast Loopback Address
Alamat unicast loopback adalah sebuah alamat yang digunakan untuk mekanisme interprocess communication (IPC) dalam sebuah host. Dalam IPv4, alamat yang ditetapkan adalah 127.0.0.1, sementara dalam IPv6 adalah 0:0:0:0:0:0:0:1, atau ::1.

Unicast 6to4 Address
Alamat unicast 6to4 adalah alamat yang digunakan oleh dua host IPv4 dan IPv6 dalam Internet IPv4 agar dapat saling berkomunikasi. Alamat ini sering digunakan sebagai pengganti alamat publik IPv4. Alamat ini aslinya menggunakan prefiks alamat 2002::/16, dengan tambahan 32 bit dari alamat publik IPv4 untuk membuat sebuah prefiks dengan panjang 48-bit, dengan format 2002:WWXX:YYZZ::/48, di mana WWXX dan YYZZ adalah representasi dalam notasi colon-decimal format dari notasi dotted-decimal format w.x.y.z dari alamat publik IPv4. Sebagai contoh alamat IPv4 157.60.91.123 diterjemahkan menjadi alamat IPv6 2002:9d3c:5b7b::/48.

Meskipun demikian, alamat ini sering ditulis dalam format IPv6 Unicast global address, yakni 2002:WWXX:YYZZ:SLA ID:Interface ID.

Unicast ISATAP Address
Alamat Unicast ISATAP adalah sebuah alamat yang digunakan oleh dua host IPv4 dan IPv6 dalam sebuah Intranet IPv4 agar dapat saling berkomunikasi. Alamat ini menggabungkan prefiks alamat unicast link-local, alamat unicast site-local atau alamat unicast global (yang dapat berupa prefiks alamat 6to4) yang berukuran 64-bit dengan 32-bit ISATAP Identifier (0000:5efe), lalu diikuti dengan 32-bit alamat IPv4 yang dimiliki oleh interface atau sebuah host. Prefiks yang digunakan dalam alamat ini dinamakan dengan subnet prefix. Meski alamat 6to4 hanya dapat menangani alamat IPv4 publik saja, alamat ISATAP dapat menangani alamat pribadi IPv4 dan alamat publik IPv4.

Format Prefix
Dalam IPv4, sebuah alamat dalam notasi dotted-decimal format dapat direpresentasikan dengan menggunakan angka prefiks yang merujuk kepada subnet mask. IPv6 juga memiliki angka prefiks, tapi tidak digunakan untuk merujuk kepada subnet mask, karena memang IPv6 tidak mendukung subnet mask.

Prefiks adalah sebuah bagian dari alamat IP, di mana bit-bit memiliki nilai-nilai yang tetap atau bit-bit tersebut merupakan bagian dari sebuah rute atau subnet identifier. Prefiks dalam IPv6 direpesentasikan dengan cara yang sama seperti halnya prefiks alamat IPv4, yaitu [alamat]/[angka panjang prefiks]. Panjang prefiks menentukan jumlah bit terbesar paling kiri yang membuat prefiks subnet. Sebagai contoh, prefiks sebuah alamat IPv6 dapat direpresentasikan sebagai berikut:

3ffe:2900:d005:f28b::/64
Pada contoh di atas, 64 bit pertama dari alamat tersebut dianggap sebagai prefiks alamat, sementara 64 bit sisanya dianggap sebagai interface ID.

Infrastruktur routing dan addressing yang efisien dan hirarkis.
Arsitektur pengalamatan IPv6 yang hirarkis membuat infrastruktur routing menjadi efisien dan hirarkis juga. Adanya konsep skup juga memudahkan dalam manajemen pengalamatan untuk berbagai mode teknologi transmisi.

Kemampuan Plug-and-play melalui stateless maupun statefull address auto-configuration.
Pada teknologi IPv6, sebuah node yang memerlukan alamat bisa secara otomatis mendapatkannya (alamat global) dari router IPv6 ataupun cukup dengan mengkonfigurasi dirinya sendiri dengan alamat IPv6 tertentu (alamat link local) tanpa perlu adanya DHCP server seperti pada IPv4. Hal ini juga akan memudahkan konfigurasi. Hal ini penting bagi kesuksesan teknologi pengalamatan masa depan karena di Internet masa depan nanti akan semakin banyak node yang akan terkoneksi. Perangkat rumah tangga dan bahkan manusia pun bisa saja akan memiliki alamat IP. Tentu saja ini mensyaratkan kesederhanaan dalam konfigurasinya. Mekanisme konfigurasi otomatis pada IPv6 ini akan memudahkan tiap host untuk mendapatkan alamat, menemukan tetangga dan router default bahkan menggunakan lebih dari satu router default untuk redundansi dengan efisien.

Keamanan yang sudah menjadi standar built-in.
Jika pada IPv4 fitur IPsec hanya bersifat opsional maka pada IPv6 fitur IPsec ini menjadi spesifikasi standar. Paket IPv6 sudah bisa secara langsung diamankan pada layer network.




Daftar Pustaka :
https://googleweblight.com/?lite_url=https://id.m.wikipedia.org/wiki/Alamat_IP_versi_6&ei=eh9bUtde&lc=id-ID&s=1&m=503&host=www.google.co.id&ts=1493275134&sig=AJsQQ1DNIT3n56-IYOj8UVtGCqkNDAi6sA&lite_refresh=1493275953124

https://belajaripv6.wordpress.com/2007/01/09/perbandingan-ipv4-dan-ipv6/

https://belajaripv6.wordpress.com/2007/01/09/dasar-ipv6-pengalamatan-2/

Kamis, 29 Desember 2016

“SISTEM PAKAR DIAGNOSA KERUSAKAN KOMPUTER DENGAN METODE FORWARD CHAINING DAN CERTAINTY FACTOR”



PENDAHULUAN
            Komputer sudah menjadi peralatan keseharian yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan saat ini untuk berbagai tugas, baik untuk mengerjakan tugas, browsing internet mencari informasi, menggunakan program untuk menyelesaikan masalah yang kompleks, sampai sebagai hiburan sekalipun seperti bermain video game dan menonton film. Pentingnya peran komputer pada era sekarang ini membuat kerusakan yang dapat terjadi pada sistem komputer dapat menghambat produktivitas pengguna komputer itu sendiri.
            Hal yang biasanya dilakukan saat terjadi kerusakan komputer adalah dengan memperbaikinya sebisa mungkin, baik memperbaikinya sendiri maupun meminta kepada teknisi yang ahli. Solusi lainnya seperti membeli komputer baru untuk digunakan, namun solusi hanya dijadikan solusi terakhir jika memang tidak dapat diperbaiki karena dengan membeli baru, pengguna akan kehilangan semua data lamanya dan tentunya mengeluarkan uang lebih banyak lagi. Maka memperbaiki komputer sebisa mungkin adalah hal yang logis yang akan dilakukan pengguna jika komputernya mengalami kerusakan.
MASALAH
            Dalam menangani kerusakan komputer, hal yang harus dilakukan pertama kali adalah mendiagnosa terlebih dahulu apa yang menyebabkan terjadinya kerusakan pada sistem komputer, kemudian dari diagnosa tersebut dapat memberikan solusi yang seharusnya dilakukan untuk memperbaikinya. Hal ini membutuhkan ilmu seputar hardware, software, dan sistem operasi komputer untuk dapat mendiagnosanya dan memberikan solusi yang tepat. Tidak semua pengguna komputer mengerti ilmu-ilmu komputer yang dibutuhkan untuk dapat memperbaiki kerusakan pada komputernya. Terkadang pengguna yang awam akan memanggil atau membawa komputernya ke teknisi yang sudah mengerti komputer.
            Hal ini menimbulkan beberapa masalah baru, diantaranya adalah teknisi sekalipun memerlukan waktu lama untuk dapat mendiagnosa kerusakan yang terjadi pada sebuah komputer yang belum tentu kerusakan yang didiagnosa sudah benar. Tidak jarang juga teknisi menunda pekerjaannya dikarenakan memiliki pekerjaan lain atau karena kompleksnya tingkat kerusakan. Selain itu dengan menggunakan jasa teknisi, pengguna harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar jasanya.
SOLUSI
            Solusi dari permasalahan di atas adalah dengan membuat aplikasi sistem pakar (expert system) yang dapat digunakan untuk konsultasi mendiagnosa kerusakan komputer. Sistem pakar itu sendiri adalah sebuah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan-pengetahuan manusia sebagai pakar ke komputer, sehingga komputer dapat menyelesaikan masalah yang dapat diselesaikan oleh pakar tersebut. Dengan adanya sistem pakar, pengguna tidak perlu repot-repot mencari dan membayar teknisi untuk mengetahui apa kerusakan dari komputernya. Bahkan pengguna dapat melakukannya di rumah dengan penggunaan aplikasi sistem pakar tersebut.
            Sistem pakar ini akan bekerja layaknya seperti konsultasi terhadap pakar atau dalam hal ini teknisi, pengguna akan memberikan masukkan berupa gejala-gejala yang terjadi pada komputer, seperti apa kerusakannya terjadi, dan lain-lain. Dari masukan yang diberikan pengguna, sistem pakar dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi pada komputer pengguna.
            Adapun metode-metode yang digunakan oleh sistem pakar ini :
Forward Chaining
Forward chaining merupakan metode inferensi yang dimulai dari mengumpulkan data-data berupa fakta yang ada menuju kesimpulan akhir. Jadi dimulai dari premis-premis masukan (if) kemudian menuju kesimpulan (then). Informasi masukan yang ada dapat berupa data, bukti, pengamatan. Sedangkan kesimpulan yang diberikan dapat berupa tujuan, hipotesa, diagnosa, dan penjelasan. Sehingga alur dari forward chaining adalah maju.
Dalam hal ini, masukan yang ada berupa informasi-informasi yang pengguna berikan berhubungan dengan kerusakan yang terjadi kepada komputer pengguna, berdasarkan pertanyaan yang diberikan oleh sistem pakar. Lalu informasi ini akan diperoses oleh sistem pakar menggunakan metode inferensi forward chaining sehingga menghasilkan kesimpulan berupa diagnosa dari penyebab kerusakan komputer, beserta penjelasannya.
Certainty Factor
Certainty factor atau faktor kepastian adalah nilai parameter klinis yang menunjukkan besarnya kepercayaan. Dalam menghadapi masalah yang ada, sering ditemukan jawaban yang tidak memiliki kepastian penuh. Ketidakpastian dapat berupa probalitas atau kebolehjadian yang tergantung dari hasil suatu kejadian. Hasil yang tidak pasti disebabkan oleh dua faktor yaitu aturan yang tidak pasti dan jawaban pengguna yang tidak pasti atas pertanyaan yang diajukan sistem. Aturan yang tidak pasti muncul dikarenakan ketidakmampuan seorang pakar untuk merumuskan suatu aturan secara pasti.
Dalam kasus sistem pakar ini, jawaban yang diberikan belum tentu jawaban yang tepat dikarenakan dapat terjadinya ketidakpastian seperti pengguna salah memberikan informasi dalam menjawab pertanyaan sistem, atau pakar yang merancang sistem pakar tersebut melakukan kesalahan dalam diagnosa kerusakan. Maka dari itu diperlukanlah certainty factor.
BIDANG YANG DIKEMBANGKAN
            Bidang-bidang ilmu yang dikembangkan dari pembuatan sistem pakar ini meliputi bidang-bidang komputer. Ilmu bidang komputer ini sangat dibutuhkan dalam pendiagnosaan kerusakan  karena kerusakan dari komputer dapat terjadi dikarenakan kegagalan sistem, yang dapat disebabkan kerusakan pada perangkat keras, perangkat lunak, atau sistem operasi.
            Pembuatan sistem pakar ini juga mengembangkan penggunaan sumber daya komputer, terutama pada bidang kecerdasan buatan (artificial inteligence) dan interaksi antara manusia dengan komputer. Pada kecerdasan buatan, lebih mengutamakan logika komputer yang diberikan pakar dalam menyelesaikan masalah. Pada interaksi antara manusia dengan komputer mengutamakan sisi desain dan antarmuka (interface) agar aplikasi sistem pakar tersebut sebagai komputer mudah dan nyaman digunakan oleh pengguna sebagai manusia untuk berinteraksi.
EVALUASI
            Hasil pengujian dilakukan penulis jurnal sistem pakar ini yang mencoba aplikasi perangkat lunak ke beberapa toko komputer dan membandingkan antara pengujian secara manual dengan pengujian menggunakan sistem pakar yang dia buat.
Dapat disimpulkan dari data yang diambil di atas, sistem pakar ini lebih unggul dari pendiagnosaan secara manual oleh teknisi dalam ukuran waktu karena lebih cepat dalam mengidentifikasikan penyebab kerusakan dari komputer.
Berikut adalah hasil :


KONTRIBUSI
            Kontribusi dari sistem pakar ini yaitu dapat menghemat biaya pengeluaran maupun waktu oleh pengguna untuk memperbaiki kerusakannya dengan menggunakan sumber komputer yang ada. Tanpa adanya sistem pakar ini, komputer hanya dapat melakukan diagnosa minimal yang terjadi pada kerusakan komputer itu sendiri, dan apalagi yang terjadi adalah kerusakan total dimana komputer tidak dapat digunakan sama sekali maka komputer tersebut tidak dapat melakukan diagnosa sedikitpun. Menurut saya berdasarkan hasil evaluasi di atas, kontribusi yang diberikan tersebut sudah signifikan.
CRITICAL THINKING
            Berdasarkan analisis yang saya lakukan dalam pembuatan review ini, dapat saya simpulkan beberapa kelebihan dan kekurangan dalam penggunaan sistem pakar ini.
Kelebihan :
Menghemat biaya
Pengguna tidak perlu membayar biaya konsultasi dan perbaikan dengan teknisi untuk memperbaiki komputernya.
Efisien
Waktu yang diperlukan untuk mendiagnosa penyebab kerusakan berdasarkan pengujian yang ada menjadi lebih singkat.
Praktis
Bahkan konsultasi yang dilakukan dapat dilakukan dari rumah karena sistem pakar berupa program aplikasi.
Kontribusi ilmu
Pembuatan sistem pakar ini berkontribusi dalam kemajuan ilmu komputer, terutama dibidang kecerdasan buatan.
Kekurangan
Kurang detil
Jika pengguna membutuhkan penjelasan lebih detil mengenai kerusakan komputer lebih detail, maka akan lebih baik jika menghubungi teknisi.
Keterbatasan interaksi
Pengguna tidak dapat menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang ingin ditanyakan ke sistem pakar, hanya dapat menjawab pertanyaan yang diberikan.
Ketidakpastian
Jawaban yang diberikan belum tentu 100% benar karena faktor-faktor ketidakpastian yang ada seperti kesalahan dalam menjawab pertanyaan atau kesalahan dalam aturan yang diberikan oleh pakar